Rabu, 02 September 2009

Identifikasi Talas ( Colocasia esculenta ( L ) Schoot )

BAB I
PENDAHULUAN


Indonesia sebagai negara tropis, terkenal akan keanekaragaman tumbuhannya. Kita sebagai pewaris Ibu Pertiwi diharapkan dapat menjaga dan melestarikan keanekaragaman tumbuhan tersebut. Dalam makalah ini kami ingin mengupas tentang jenis talas-talasan yaitu Colocasia esculenta (L) Schoot, yang termasuk famili Araceae, yang terdiri dari 100 lebih genus dan lebih dari 1500 spesies (Rubatzky,1998). Sebaian besar merupakan tanaman di daerah tropik dan sub tropik, dan terdapat juga spesies Araceae yang tergolong dalam kelompok tumbuhan epifit.
Taksonomi sebagian besar talas-talasan layak santap sangat membingungkan karena perbedaan antar spesies yang tidak jelas, dan karena berbagai nama lokal yang digunakan saling bertukar. Sebagian besar wilayah produksi memiliki kultivar atau klon lokal yang khas, dan penamaannya sering tidak relevan untuk identifikasi yang tepat.
Beberpa ciri umum genus dapat dikenali pada talas yang dibudidayakan. Jenis tanaman yang menghsilkan kormus anak (kormel) disebut talas atau bentul (dasheen); yang menghasilkan kormus agak kecil dengan kormel yang sedikit kecil disebut keladi (eddoe). Beberapa tipe lain ditanam khusus untuk diambil daun dan tangkai daunnya.
Keunikan lain adalah bahwa beberapa kultivar ditanama di sawah, sedangkan yang lain di lahan kering. Kultivar dikelompokkan berdasarkan ukuran tanaman, bentuk dan ukuran daun, warna daging kormus, bentuk bunga, dan kegunaan dalm masakan. Perbedaan dalam taraf rasa menggigit adalah sifat lain yang biasa digunakan untuk membedakan kultivar atau klon.


BAB II
DESKRIPTIF


1. Asal
Secara luas diakui bahwa talas-talasan berasal dari areal rawa dan hutan tropika bercurah hujan tinggi. Domestikasi talasan liar yang agak atau tidak memiliki rasa menggigit (nonacrid) dicapai melalui seleksi selama awal budidaya, yang diperkirakan sejak 7000 tahun yang lalu, mungkin sebelum budidaya padi (Rubatzky, 1998).
Di Amerika tropika, kecuali spesies Xanthosoma, genus talasan yang layak santap berasal dari Dunia Lama. Bentuk liar Colocasia ditemukan di India, bagian utara teluk Bengal. Dari asalnya di India tropika, Colocasia menyebar ke arah timur Cina, Jepang, dan beberapa kepulauan Pasifik. Penyebaran ke arah barat juga terjadi, yaitu ke Mesir, Afrika Timur, dan wilayah timur Mediterania. Penyebaran selanjutnya terjadi ke seluruh Afrika. Pada masa pasca-Kolombus, talas diintroduksikan ke wilayah Karibia dan Amerika tropika.
Penyebaran Xanthosoma sagitifolium (sente) dari daerah asalnya di wilayah tropika Amerika timur laut terjadi baru-baru ini. Jenis yang dibawa ke Afrika selama masa perdagangan budak (pada abad ke-16) ini secara cepat diterima dan sekarang menjadi tanaman penting berperingkat di bawah ubi kayu dan uwi. Karena kemiripannya dengan Colocasia, yang disebut ‘cocoyam’ (uwi kelapa), di beberapa lokasi, sente dikenal sebagai ‘new cocoyam’ (uwi kelapa baru). Ketahanannya terhadap hama dan penyakit mempercepat adaptasi dan penyebarannya di Afrika, Asia, dan beberapa kepulauan di Pasifik. Budidaya spesies Xanthosoma lain kurang penting, kecuali di wilayah tertentu di Asia Tenggara, India, dan beberapa kepulauan di Pasifik Selatan.

2. Perawakan
Talasan adalah tanaman herba monokotil tahunan. Kecuali spesies Amorphophallus, daun yang muncul dari tunas apikal komus berupa gulungan dengan tangkai daun panjang dan tegak yang menopang lembar daun yang lebar dan besar, berbentuk tameng. Tangkai daunnya lembut panjang padat berisi, tetapi memiliki banyak rongga udara yang memungkinkan tanaman beradaptasi terhadap kondisi tergenang. Sifat umum talasan adalah terdapatnya cairan getah menggigit yang ditemukan di seluruh jaringan.
Tinggi tanaman ini antara 0,5 – 1,5 m dan memiliki daun berjumlah 2 sampai dengan 5 helai. Daun merupakan daun lengkap, yaitu memiliki helaian daun, tangkai daun dan pelepah serta termasuk daun tunggal. Tangkai daun berwarna hijau, bergaris-garis tua dengan panjang 20 – 60 cm. Daun berbentuk perisai, berwarna hijau dan terkadang agak kekuning-kuningan. Pangkal daun berlekuk dan ujungnya meruncing. Ibu tulang daun daun besar dan dapat dibedakan dengan jelas dengan anak-anak tulang daun lainnya. Tepi daun rata, dengan pertulangan daun menjari dan tipe peruratan daun memata jala. Bagian bawah daun berlapis lilin, sedangkan bagian atas daun berwarna lebih cerah dari bagian bawahnya dan memiliki tekstur yang kasap. Batang sangat pendek, biasanya terbungkus oleh pelepah daun dan berbentuk umbi (bongkol) yang seringkali kita konsumsi. Batang berada di dalam tanah, berwarna coklat agak kehitaman dan terkadang diseliputi oleh bulu-bulu yang halus. Batang berbentuk bulat dan jarak antar ruas batang sangat sempit atau pendek. Arah tumbuh batang tegak, sehingga berdasarkan arah tumbuhnya cabang maka talas memiliki model arsitektur Chamberlain. Akar tanaman ini termasuk sistem perakaran serabut, dimana akar berasal atau tersusun atas sekelompok akar adventif yang terletak pada batang yang sangat pendek dan berbentuk filiformis.
Pada pengamatan kami, tidak ditemukan organ repoduktif seksualnya. Tetapi berdasarkan beberapa literatur (Steenis, 1975), maka dsekripsi dari organ reproduktivum tanaman ini adalah sebagai berikut: tongkol 2-3, dai ketiak daun, tangkai 15-60 cm. Seludang 10-30 cm panjangnya, oleh suatu penyempitan melintang dibagi menjadi 2 yang tidak sama besarnya; bagian bawah hijau, menggulung, tetap tinggal; bagian atas lebih panjang, kuning oranye, rontok. Bagian tongkol betina hijau, tercampur dengan bunga yang berkembang tak sempurna dan berwarna mentega, 1-4,5 kali lk 1 cm; di atasnya menyempit, warna mentega, dengan hanya bunga steril, bagian jantan berwarna mentega, panjang 3-6,5 cm, dengan kepala sari bersatu dalam kelompok; bagian ujung telanjang, panjang 2-5 cm. Bunga yang tumbuh tidak sempurna berbentuk gada persegi 3-5. Buah buni hijau, diameter lk 0,5 cm. Biji berbentuk spul, beralur membujur .

3. Kegunaan dan Komposisi
Kormus dan kormel talas-talasan digunakan sebagai sayuran berpati yang disiapkan dengan cara direbus, dan dimakan setelah dibakar, dipanggang, dikukus atau digoreng. Penyiapan bentuk pasta (getuk) dilakukan dari kormus talas rebus adakalanya juga berasal dari kormus sente rebus. Kedua hasil persiapan ini kadang-kadang dimakan setelah peragian, yang menyebabkan produk tersebut agak masam. Produk sente lebih terkenal daripada produk talas-talasan karena sente sendiri lebih mudah ditanam, lebih toleran terhadap kesuburan tanah rendah, lebih tahan terhadap penyakit, toleran terhadap kekeringan, dan kualitas layak santapnya lebih baik (Rubatzky, 1998).
Komus/kormel talasan adalah sumber pangan berkabohidrat tinggi yang murah, tetapi dari sudut gizi memiliki kandungan protein dan vitamin yang rendah. Pati talas-talasan mudah dicerna dan tidak menyebabkan alergi. Komposisi organ lumbung ini rata-rata 65-80% air dan 20-25% karbohidrat. Kandungan pati pada kormus dan kormel sente umumnya lebih daripada talas, dan kormel sente memiliki kandungan pati lebih tinggi daripada kormusnya. Kormus dan kormel kering dari kedua jenis talas ini dapat digiling menjadi tepung. Kormus dan kormel matang memiliki kandungan gula rendah.
Daun muda dan tangkainya yang lembut digunakan sebagai sayuran hijau. Kandungan protein daun sekitar dua hingga tiga kali lipat lebih tinggi daripada kormus dan kandungan vitamin C nya umumnya lebih baik. Pucuk talas yang dipucatkan, yang dikonsumsi sebelum daunnya membuka, diperoleh dengan cara menyimpan kormus di tempat gelap pada suhu tinggi. Komponen penyebab rasa menggigit, sekalipun ada biasanya pada tingkat yang lebih rendah dibandingkan dengan dalam kormus, dan dapat dibuang dengan sekali atau dua kali mendidihkan kormus dalam air.


BAB III
KESIMPULAN


Bentul (Ind) atau Komba (Madura) yang dikenal sebagai spesies Colocasia esculenta, sebenarnya bukanlah tanaman asli Indonesia melainkan tanaman asli dari Afrika. Tanaman ini berbentuk herba menahun, dengan perbanyakan umumnya dilakukan secara vegetatif melalui umbinya yang ditanam. Berdasarkan literatur (Estiti, 19 dan Tjitrosoepomo, 19 ) diperoleh hasil pencandraan seperti yang telah disebutkan pada bagian deskripsi dari bab sebelumnya. Tanaman ini tidak hanya dimanfaatkan bagian kormus atau kormelnya tetapi juga daun dan tangkai daunnya karena kandungan protein, vitamin dan juga gulanya. Ilustrasi gambar untuk kejelasan dari tanaman ini ditunjukkan pada lampiran gambar, informasi terutama tentang organ reproduktivum dan bagaimana gambarnya diperoleh dari http://www.anbg.gov.au/angio/araceae.htm.


Daftar Rujukan

Anonim, Tanpa Tahun. Araceae Juss. http://www.anbg.gov.au/angio/araceae.htm. Diakses 13 Desember 2004.

Hidayat, B. Estiti. 19 . Morfologi Tumbuhan. Jakarta: DIKBUD DIRJEN DIKTI.

Rubatzky, Vincent E. Sayuran Dunia 1 Prinsip, Produksi, dan Gizi. Bandung: ITB

Steenis, Van C. G. G. J. Flora untuk Sekolah di Indonesia. Jakarta: Pradnya Paramitha.

Tjitrosoepomo, Gembong. 19 . Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: UGM PRESS.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar